Favicon maker- Create a favicon from any image Memoar 9 Tahun di Penjara Indonesia, Antara Nyawa, Martabat dan Sebatang Rokok | indonezilla

Kamis, 23 Juni 2011

Memoar 9 Tahun di Penjara Indonesia, Antara Nyawa, Martabat dan Sebatang Rokok

Kamis, 23 Juni 2011

Tak diragukan, penjara telah ada selama ribuan tahun dan akan berdiri sampai akhir masa. Tanpa ranjang, lantai kotor dan mungkin tempat yang mengerikan bagi manusia. Tapi bukan itu esensi horor yg dirasakan narapidana, melainkan tak seorangpun menatap mereka secara manusiawi, ketika mereka menangis atau merintih, orang akan tertawa, bisa jadi mereka mengucapkan selamat tinggal pada alasan mengapa harus hidup.

Semalam saya kebetulan menyaksikan sebuah tayangan di National Geographic Channel bertajuk Lockup Abroad: Busted in Bali. Kisah seorang warga negara Australia (Christopher V. Parnell) yang lama menetap di Kathmandu, Nepal, pada tahun 1985 berlibur bersama keluarganya ke Bali. Singkat cerita dia terjebak dalam kasus penyelundupan narkoba yang mengakibatkan dia harus mendekam dipenjara Indonesia dengan vonis hukuman seumur hidup. Bukan detil kasusnya yang membuat saya tertarik mengambil handycam dan merekam tayangan TV itu, tapi karena itu adalah dokumenter kisah nyata dengan latar pengambilan gambar penjara-penjara Indonesia, beserta aktivitas kesehariannya yang sangat mendekati real dan cukup akurat.

Diantara sekian banyak serial Lockup abroad atau banged abroad yang lain, baru kali ini saya menyaksikan serial yang begitu sadis, begitu menyentuh lubuk terdalam kemanusiaan, potret nyawa manusia yang harganya semurah sepiring nasi sebatang rokok. Dan yang membuat seseorang tetap bertahan hidup di penjara Indonesia, hanya sebuah batas tipis antara kegilaan dan tekad baja.

Chris Parnell yang mendekam selama 9 tahun, berpindah-pindah penjara antara Bali dan Malang, 3 tahun ia habiskan dalam sel isolasi. Lewat buku yang dikarangnya "The Sunday Smuggler" menceritakan pengalaman dramatis menghadapi sistem hukum yang korup, kekerasan dibalik terali yang tak kenal ampun, pertumpahan darah yang jadi menu sehari-hari narapidana, pelecehan martabat manusia, berbanding terbalik dengan predikat "lembaga pemasyarakatan". Realitas yang harus dijalani seorang narapidana, terlepas dari kejahatan yang mereka lakukan, bukan merubah mereka kearah yang lebih baik, malah mereka sangat berpeluang kehilangan harga diri dan rasa belas kasih terhadap manusia, menjadi lebih agresif selepas dari "Lembaga Pemasyarakatan". Mungkin lewat tayangan berikut ini, bisa lebih banyak hikmah yang kita dapatkan..



0 komentar:

Posting Komentar

 
Select a text on the page and get translation from Google Translate!

Download Free Translator