Favicon maker- Create a favicon from any image Operasi Nekad Penculikan Admin Kompasiana, Gara-gara Tidak HL | indonezilla

Kamis, 16 Juni 2011

Operasi Nekad Penculikan Admin Kompasiana, Gara-gara Tidak HL

Kamis, 16 Juni 2011


Pada suatu sore, saya kedatangan sahabat seorang kompasianer (tak mau disebut nama) mengajak minum-minum disebuah cafe. Dalam percakapan iseng-iseng, seolah mabuk, dia menanyakan pendapat saya tentang artikel-artikelnya yang tidak pernah HL, saya menanggapinya dengan bercanda. Tapi kemudian dia mengusulkan untuk menculik admin kompasiana untuk "dirawat secara kemanusiaan", sungguh saya tidak menyangka dia akan berpikir senekad itu.

Keesokan harinya dia datang ke markas Indonezilla, dan mengatakan bahwa dia "banyak tahu" tentang kompasiana. Akhirnya saya mengajaknya jalan-jalan disebuah taman. Setelah pembicaraan basa-basi, dia minta maaf, harus cepat pergi karena harus mengupdate beberapa postingannya di kompasiana. Sebelum berpisah, dia menghadiahkan saya sebungkus rokok, dengan permintaan supaya diisap kalau sudah sampai dirumah.  Rokok itu saya terima, saya isap sebatang dan langsung saya kirimkan ke laboratorium Indonezilla untuk diperiksa. Para ahli kode militer Indonezilla mendapati kode-kode morse pada kertas timah rokok, berisi biodata lengkap dari admin kompasiana beserta protokol keamanannya. Informasi itu diberi label "dari sumber asing, dan dapat dipercaya". Saya yang menangkap kabar itu merasa tidak jelas, namun pemberi kabar enggan memberi penjelasan lebih rinci.

Sungguh ironis, disatu sisi jika misi itu berhasil, maka akan mematahkan supremasi kompasiana dijagat maya Hindia Belanda. Tapi kalau gagal, bakal memicu krisis internasional yang gawat seperti meletusnya perang dunia ketiga.

Ditengah kekalutan menentukan pilihan, beberapa sponsor yang selama ini menjadi rival bebuyutan kompasiana (tidak mau disebut nama juga) mengundang saya untuk meeting rahasia. Ternyata sahabat saya kemarin juga ada disana, klop! Hal ini menambah gedebak-gedebuknya hati saya. Tapi karena semua peserta meeting secara aklamasi memberikan lampu hijau untuk operasi ini, dengan berat hati akhirnya saya ikut setuju, demi kemanusiaan, semangatnya. Persetujuan itu dibuat dalam kode yang amat khusus, "Operasi Geledek Bisu"

Tapi yang mengagetkan saya, operasi itu harus menggunakan markas Indonezilla sebagai pusat komando, dengan pertimbangan satu-satunya pangkalan yang memenuhi syarat "rimba" elektronik yang mengkoordinasi komunikasi persenjataan udara, darat dan laut. Bagaimanapun juga, saya merasa jadi manusia yang paling celaka, karena saya bukan orang yang tepat untuk memikul misi "keramat" itu.

Singkat cerita, 24 jam berikutnya, setelah memeriksa persiapan masing-masing, Kepala Staf Gabungan Operasi, Jendral bintang setengah Indonezilla, mengadakan briefing komando. Setelah mendengarkan ceramah 45 menit, akhirnya kelompok diberi tahu bahwa mereka akan menculik admin kompasiana, bahwa operasi yang mereka jalankan sangat rahasia, dan teknisnya baru akan diberitahukan setelah dijalankan. Setelah hening sejenak, mereka bertepuk tangan. Itu menandakan mereka setuju dengan rencana dan siap menanggung akibatnya. Untuk pertama kali selama jadi tentara, Indonezilla mengeluarkan air mata karena terharu.

Perintah berangkat dikeluarkan pukul 3.00 dinihari. Disediakan empat buah pesawat Hercules bermesin empat. Untuk personel tentara persenjataanya berupa senapan otomatis M16, peluncur granat M79, Pistol kaliber 45, Granat Claymore, kapak, penggunting kawat, tali, borgol, senter, racun api, tangga lipat, lampu infra merah dan alat bantu penglihatan malam.

Komandan peleton kemudian memeriksa milik tiap anak buahnya, hal terakhir yang harus disiapkan, personel disuruh makan yang baik dan banyak karena mungkin itulah saat makan yang terakhir selama 12 jam berikutnya, kemudian mereka harus menyemir wajah jadi hitam pekat. Menurut rencana, mereka akan mencapai landing zone kantor kompasiana persis dalam waktu tiga jam. Ketepatan waktu sangat penting, karena perhitungan pergantian admin.

Setelah tiga jam terbang, pasukan lintas udara itu terjun dalam kegelapan. Lima menit kemudian terdengar ledakan yang menimbulkan lubang di sebuah dinding. Setiba di dalam kantor kompasiana, personel mulai membongkari ruangan demi ruangan dengan alat-alat khusus yang dibawanya, ketika tiba-tiba mereka diserang hebat oleh security yang berlari dari gerbang depan, yang masih ketinggalan hidup.

Pasukan akhirnya mencapai ruang admin, namun tak seorang pun admin kompasiana yang dapat mereka temukan. Setelah sepuluh menit menggeledah, akhirnya komandan peleton mengirim berita radio bahwa isi ruang admin negatif. Mereka memotreti semua ruangan yang telah dibongkar dan ternyata kosong!   (to be continue... )


0 komentar:

Posting Komentar

 
Select a text on the page and get translation from Google Translate!

Download Free Translator